Sabtu, 17 September 2016

Setiap Kita


Pernah ada masanya, rahasia adalah jarak bagi kita. Sedekat apapun kita berdiri dan berpeluk, ada satu ruang di aku dan di kamu yang menjadikan kita bukanlah pijakan untuk kuat masing-masing, juga bukan sebuah pelabuhan bagi lelah masing-masing.

Masa-masa itu,senyum kita tidak selebar bentang sayap rajawali, kata-kata kita tidak sejujur rasa sakit. Berbalut canda, rahasia tetap menyimpan dirinya.

Apa-apa yang terus tersimpan membuatnya perlahan tak tersentuh. Ya, kemudian, kita menjauh.

Sampai lupa rasanya merindukan satu sama lain.


Pada masa kejayaannya, rahasia berbahagia. Sangat berbahagia. Aku dengan rahasiaku, kamu dengan rahasiamu. Jauh mundur ke tahun pertama kita, kita sepakat bahwa berbahagia adalah urusan diri sendiri. Aku tidak bertanggung jawab atas kebahagiaanmu, begitu juga kamu atasku. Kamu tidak perlu menjadi alasan kebahagiaanku, sebagaimana aku yang bersikeras bahwa bahagia tidak memerlukan alasan. Maka, pada masa kejayaannya, aku tahu kamu berbahagia dengan pilihanmu, meski pada saat itu aku tidak benar-benar tahu apa saja yang menjadi opsimu. Sama halnya, kamu tahu aku berbahagia dengan asumsi atas lika-liku yang kujalani, meski saat itu kamu tidak benar-benar tahu putaran apa yang kulakukan.

Masa itu, rahasia mendewasakan kita.

Hingga tiba kemudian, pilihan berliku kita bermuara pada satu malam. Bukan wajah dan raga yang bersua, tak mengapa. Suara kita bertemu, bersamaan dengan hati yang saling menyapa. Aku tidak pernah menyangka bahwa sebuah kata 'halo' bisa mengungkap kisah 36 bulan dalam 4 jam.

*

Pernah ada masanya, rahasia adalah jembatan bagi kita. Jembatan bagi dua jiwa yang ternyata saling merindukan. Jembatan bagi deras air mata keharuan serta henyak nafas tak percaya. Kita menyeberanginya malam itu. Menyeberangi rindu yang dalam, bersama melewati deras air mata yang hamper menghanyutkan, dan selama mungkin tetap menahan nafas demi terus hidup.

Pukul satu dini hari. Barangkali rahasia lebih senang keluar di kegelapan, sekalipun yang menjadi rahasia adalah salah satu yang menerangi kehidupan. Ruanganku tetap lengang, membiarkan raunganku melenggang. Sebebas senyap malam itu, terungkap aku yang disembunyikan dari kenyataan.

Di seberang sana, keheningan bersepakat dengan jangkrik yang diam meski masih tersadar, juga dengan angin yang datang mengendap-endap agar tidak mengganggu setiap hembusan nafas. Sebagian dirinya yang dianggap tak layak menerobos telingaku dengan tiba-tiba, sebagian dirinya yang jujur mengetuk hatiku dengan lembut.

*

Kita memang tidak bisa merebut peran rahasia sebagai sahabat bagi masing-masing. Tetapi mungkin, kita hanya butuh tempat. Semata-mata agar hati kita tidak lagi sesak. Agar hati kita bisa terus menjadi ladang kebaikan dan kebahagiaan.

***



Ps. Rahasia tetap menjadi rahasia. Tetap ada celah-celah yang kita tutupi, sebesar apapun penerimaan satu sama lain. Bagaimanapun, manusia ini tampaknya masih saja takut pada sesamanya. Barangkali karena belum paham benar kepada siapa seharusnya manusia takut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar