Jumat, 15 April 2016

merangkai

Seperti anggrek, ia meminta kata-kata.

Tidak sepert anggrek, ia rimbun.
Ketika anggrek berbunga satu-dua, bunganya tumbuh tak beraturan di balik dedaunan. Ketika bunga anggrek mengundang decak kagum dari keramaian, bunganya berkembang rupawan sendiri di taman surgawinya. Dan ketika satu-dua bunga anggrek harus layu meninggalkan batang anggrek yang mengering, bunganya menebar aroma wangi yang membuat orang bertanya-tanya dari mana asalnya.

Kepalanya, taman surgawinya. Ide, cita, dan kebebasan berkeliaran dengan riangnya.

Mulutnya, ladangnya: apa yang ia tanam, itulah yang ia tuai. Tak sedikitpun keburukan ia niatkan untuk tumbuh. Jikapun ada setitik keteledoran sebagai manusia, segera ia bangun orang-orangan sawah pengusir hama. Ia bangunkan orang dalam dirinya.

Taman dan ladangnya berbahagia.
Ia tahu benar bagaimana menjadikannya berbahagia.

Teruslah berbahagia. Selamat ulang tahun.

-dari seorang tetangga yang hampir selalu melongok pada hijaunya rumput yang ada di pekaranganmu-



.gambar dari google images.

Minggu, 31 Januari 2016

jendela bercerita


Artis-artis kaca berwarna sudah mulai bekerja sejak pagi, sejak sajakku masih menunggu mendidihnya telur kampung yang direbus.

Dibawanya kaca, timah  hitam, dan cahaya. Hati-hati. Sebab yang namanya kaca bisa retak ketika melihat dan mencerminkan keburukan. Sebab yang namanya timah hitam bisa menjelma debu yang mendadak hilang. Sebab yang namanya cahaya, bisa menjadi gelap ketika dipilih untuk dipandang dalam pejam.

Artis-artis kaca zaman sekarang tak punya bengkel; mereka punya toko serba ada. Artis-artis kaca zaman sekarang perlu berkaca pada pada artis-artis kaca zaman pertengahan: mencermati kehati-hatian mereka menenteng kaca, timah hitam, dan cahaya dalam satu genggaman. Harga sebuah karya seni dipatok sejak sebelum karya itu ada.

Kalau kapan-kapan kamu berkunjung ke katedral di dekat jalan raya –tempatku menolak perpisahan denganmu- ingatlah sebuah kisah ini:

“Bahwa sebelum jadi bangunan megah itu, dipersiapkan terlebih dulu kaca-kaca berwarna untuk jendela. Nantinya ia akan mewujud ornamen yang indah. Awalnya ia adalah sebuah bukan apa.

Oleh para artis kaca berwarna, disusunlah letak garis timah hitam dan warna dari potongan kaca yang akan dipakai. Para artis bekerja sesukanya: membuat lekuk dan membayangkan padanan warna yang acak. Para artis tak peduli apakah akan jadi indah atau apa kelak.

Potongan kaca lalu dilukis. Agar lekat, dipanaskan cat pada kaca.

Kemudian para artis bermain dengan imajinasinya. Imajinasi yang tertib. Imajinasi yang patuh pada rancangannya. Imajinasi yang tidak lari dari inti cerita yang hendak ia sampaikan.

Pada zaman dahulu, jendela adalah buku –kebalikan dengan zaman sekarang. Maka ketika para artis kaca berwarna bekerja, sebenarnya mereka sedang bercerita. Menceritakan seorang petani yang menyebarkan beraneka biji di beberapa macam kondisi tanah. Disusunnya potongan kaca merah sebagai baju petani, kaca biru sebagai celananya, kaca putih dan coklat sebagai ladangnya.

Beberapa artis kaca berwarna tidak mengerti soal agama dan ajarannya. Beberapa buta soal iman. Satu hal yang dimiliki oleh mereka adalah kebaikan. Itu saja. Sebab mereka takut akan kehilangan pekerjaanya. Satu saja keburukan mereka lakukan, retaklah kacanya, buyarlah ceritanya. Karena itulah, para artis kaca berwarna adalah manusia yang paling menyenangkan pada masanya.”


Kalau kapan-kapan kamu berdoa di dalam katedral yang sama, doakan aku. Untuk menjadi orang yang paling menyenangkanmu.


Sabtu, 31 Oktober 2015

Tak Sampai Garis Akhir



Satrio, 14 tahun, pelajar Sekolah Menengah Pertama, pembalap dalam lamunan.

Lampu merah, kuning, dan hijau bertengger di atas jalan. Tergantung dengan gagahnya. Sementara di bawah, para mata yang tajam bersiaga tanpa kedip, agar bisa segera memerintahkan tangan yang menggenggam setang untuk segera menghentakkan motor meluncur ke depan. Nanti, ketika lampu hijau menyala. Deru motor bersahutan. Sama-sama ingin menunjukkan kejantanannya, yang sampai sekarang masih ditahan.
Pada saat yang bersamaan, deru mesin motor bebek Satrio juga sama lantangnya, meski memang tenggelam di antara raungan motor serba cepat yang lain. Satrio memanaskan mesinnya. Memanaskan nyalinya. Pembalap itu keren seperti ini. Pembalap itu super cepat!
Terdengar riuh suara penonton. Mendukung pembalap kesayangannya beraksi. Menyaksikan pembalapnya merendahkan motor di setiap tikungan dan memacu motornya di jalanan yang lurus. Para penonton sama tidak sabarnya dengan pembalap. Menunggu lampu-lampu itu menyala.
Dari kejauhan sayup-sayup terdengar juga Ibu berteriak,”Jangan lupa ya, Satrio! Telur setengah kilo dan beras lima kilo! Hati-hati! Tidak usah pakai motor, nanti Bapak marah!”
Entah Ibu didengar atau tidak. Ah, Satrio hanya mendengar penonton meneriakkan namanya. Maka ia melaju dengan motornya. Motor bapaknya.
Pembalap itu keren. Dia bisa merasakan angin yang panas menerpa wajahnya. Semakin memanaskan nyalinya. Itu yang Satrio suka. Ia mesti lebih sangar daripada orang lain. Ini masalah pembuktian. Satrio menggerungkan mesinnya. Motor meraung. Itu yang Satrio suka, dari curi-curi kesempatan.
Perlombaan dimulai. Satrio berada di urutan ke-tigabelas, masih jauh dari unggul. Tidak mengapa, masih putaran pertama. Masih banyak putaran berikutnya. Ia mesti fokus dulu sekarang. Bagaimana caranya mencapai garis akhir.
Satrio begitu ingin mencapai garis akhir. Sudah dibayangkannya berdiri di atas podium dan mendapatkan piala, diiringi teriakan penonton mengelukan namanya. Juga sudah terbayang olehnya nanti ketika menyemprotkan botol anggur putih yang meledak setelah dikocok beberapa kali. Sudah dibayangkan dirinya yang keren dan gagah.

*

 Masalahnya, kalau kita lihat dari kacamata yang riil, perlombaan ini bukan perlombaan yang mesti dimenangkan. Tepatnya, ini bukan perlombaan. Tidak ada perlombaan.
Satrio harus ke pasar untuk membelikan pesanan Ibu. Telur, beras, dan catatan lain yang sudah dikantungkannya. Agar bisa tiba di pasar, Satrio mesti menghadapi jalanan yang ganas. Pemotor yang ugal-ugalan, angkutan kota yang semaunya, pengguna mobil yang tidak sabaran. Uh oh, sungguh potret kota yang brutal, tempat Satrio tinggal. Maka, pada saat itu, pada saat ia mesti keluar dari gang rumahnya, Satrio mesti menjelma menjadi salah satu di antaranya.
Sepertinya tidak hanya Satrio yang bertransformasi. Begitu juga dengan hampir sebagian warga di kotanya. Memasang gigi yang paling tajam, mata yang paling awas, dan hati yang paling keras. Melunak berarti menyerah. Menyerah berarti kalah. Lalu kamu akan mati tertindas. Jangan, jangan sampai!
Kemudian Satrio mewujud pembalap dalam benaknya. Pembalap yang keren itu! Pembalap yang nomor satu! Pembalap juara! Pembalap yang sampai pertama kali di garis akhir.

*

Kembali ke jalanan versi kita, alias perlombaan versi Satrio. Baru saja ia disalip. Merasa kesal karena kecolongan, ia kebut motornya, memburu motor merah yang tadi.
Sial, cepat sekali melesat! Ke mana motor merah itu! Mungkin setelah lewat tikungan di depan itu, aku akan bisa menyusulnya. Lalu menghabisinya di jalanan sepanjang 70 meter itu. Akan kupacu si bebek ini di sana nanti
Mobil yang ada di hadapannya tidak membuatnya mengurangi kecepatan. Seperti yang ia lihat di televisi, pembalap tidak pernah melambat. Maka ia arahkan roda depan motornya ke sebelah kiri, melintasi jalanan dan menyalip dari sisi kiri mobil.
Lewat satu, dua, dan tiga mobil. Pembalap itu cepat. Pembalap itu berani. Sebentar lagi dia sampai di pertigaan dan ia harus belok ke kanan. Lampu lalu lintas tadinya masih hijau ketika ia menyalip ketiga mobil. Sekarang sudah berganti ke kuning. Kuning, artinya hati-hati. Hati-hati kalau sebentar lagi akan merah dan berhenti. Tapi seolah tidak ada artinya bagi Satrio. Ia pacu motornya. Sebelum merah maka ia tidak perlu berhenti. Lagipula, kalau berhenti, ia bisa kehilangan motor merah tadi. Tidak mungkin dia jatuh ke urutan bawah dan tertinggal.
Mobil-mobil dan beberapa motor sudah mulai berhenti. “Bagus,” pikir Satrio, “tidak ada lagi yang menghalangi jalanku.” Kemudian dari sisi kiri jalan, ia arahkan motor untuk membelok ke kanan, mengarah langsung ke jalan yang ia tuju. Pembalap itu hanya melihat ke depan, tidak kiri tidak kanan. Satrio hanya melihat ke depan, tidak kiri tidak kanan. Tidak melihat kalau dari sebelah kiri, beberapa motor yang memang punya hak untuk jalan, juga memacu motornya.
Klakson melengking. TIIIIINNNNN…. TIINNNNN….. Tidak hanya dari satu motor, mungkin tiga. Menyalak. Marah.
Menghindari tabrakan, Satrio membanting motornya ke sebelah kanan. Seperti pembalap yang merendah ketika membelok. Sayang, dia tidak seimbang untuk bisa mengembalikan motor ke posisi tegap.  Badannya lebih ringan daripada bobot motor bebeknya. Satrio terjatuh. Pertemuan antara kepala tanpa helm dengan aspal jalan tidak terelakkan.
Mobil-mobil berhenti. Ada dua motor yang ikut terjatuh. Yang satu karena roda depannya sempat menyundul roda belakang motor Satrio, oleng, dan menyenggol motor di sebelahnya.
Satrio sudah tidak sadarkan diri ketika beberapa pemuda memakinya.
“Bocah gak tau aturan!”
Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyaksikan makian yang berubah menjadi kepanikan. Dari tiga motor yang terjatuh, hanya satu motor yang tergeletak diam bersama pengendaranya.

*


“Pak, pembalap itu keren banget ya, Pak! Pembalap super cepat! Wuuuzzz…! Melesat lebih cepat daripada angin!”
“Pembalap itu memang keren. Bukan keren-kerenan,” kata Bapak, beberapa minggu yang lalu ketika menonton balap motor yang disiarkan di suatu televisi swasta bersama Satrio.
Kan sama-sama keren, Pak!”
“Pembalap itu keren. Pembala itu dewasa. Kamu tahu, apa yang membedakan pembalap dengan pengendara motor yang ugal-ugalan? Kesabaran. Dia memang cepat. Tapi bukan asal cepat. Sekali lagi, pembalap bukan pengendara motor yang ugal-ugalan. Pembalap, penuh perhitungan, menghitung risiko, bukan hanya melihat celah. Pembalap, mensyukuri hidup, bukan sekadar menjalani hidup. Pembalap itu orang yang paling menyayangi dirinya sendiri. Dan orang yang paling menyayangi dirinya sendiri adalah orang yang juga menyayangi asal muasalnya. Maka ia tidak akan membawa kendaraannya sembarangan.”
Satrio terdiam sejenak. Entah mengerti, entah berusaha mengerti, entah tidak mengerti sama sekali. Bapak juga terdiam, memandangi putranya yang kecil badannya namun besar nyalinya. Sudah beberapa kali Satrio merajuknya agar boleh membawa si bebek keluar dari gang, menuju jalan besar. Khawatir benar Bapak dengan putranya yang belum siap menghadapi keganasan. Belum siap mental. Belum stabil secara emosi. Masih mementingkan adrenalinnya. Bapak tahu benar, sebab Bapak juga pernah menjadi anak laki-laki.  
“Kita tidak mesti menjadi pembalap. Kita cukup memiliki jiwa pembalap. Bapak harap kamu ingat pesan Bapak tadi. Itu buat nanti kalau kamu sudah berusia 17 tahun.”
“Boleh, Pak, kubawa si bebek itu ke sekolah?” Satrio mencoba peruntungannya lagi biar mendapat izin membawa motor bapaknya itu.
“Bebek mesti menunggumu tiga tahun lagi,” begitulah Bapak menjawab.
“Tiga tahun itu lama, Pak! Ayolah! Kemarin kulihat Raden membawa motor bapaknya juga ke tempat les. Raden keren, Pak!”
“Ah, Raden biasa saja, Nak. Tidak ada yang keren dengan membawa motor bapaknya.”
“Kalau begitu bapaknya Raden yang keren! Karena dia membolehkan Raden mengendarai motor sendiri! Bapakku tidak keren!” Satrio marah.
Bapak menghela nafas.
“Baiklah. Kamu mau mendapatkan izin mengendarai si bebek sendiri?” tanya Bapak.
Satrio mengangguk.
“Kalau kamu sudah bisa memahami pesan Bapak tadi, baru kamu boleh membawa si bebek ke mana saja kamu mau.”
Jelas sekali dalam hatinya Satrio marah pada Bapak. Sudah gagal mendapat izin, tidak mengerti pula apa pesan Bapak tadi. Uh!

*

Sudah selesaikah perlombaanmu, Satrio?
Sudah senang, sampai ke garis akhir?
Siapa yang menang? Maut?
Bukankah garis akhirmu hari ini adalah membawakan Ibu telur setengah kilo dan beras lima kilo?

***





Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Kamis, 01 Oktober 2015

malam yang dituliskan oleh pagi



Kepada purnama yang compang-camping tergigit awan, ada belasan peduli untukmu, yang mungkin bisa dijadikan tambalan.

Bukan, bukan untuk membuatmu tampak sempurna. Hanya untuk mencari tahu bagaimana sesungguhnya mengobati luka.

Tunggulah aku di atas sana, sebentar lagi aku akan terbang menujumu, dengan sapu terbangku.

Setibanya di sana, di hadapanmulah akan kuajak serta sapuku menari, seperti para penyihir yang merayakan ketidakabadian malam.

Barangkali awan yang yang menggigitmu akan jijik dengan tarianku yang tidak sempurna dan tidak bertempo, kacau balau.
Barangkali senyummu akan tersungging lebar, seperti biasa ketika kamu dan aku menertawai kebodohan.
Barangkali segerombolan awan itu akan benar-benar ketakutan melihat kita menggila bersama.

Setibanya di sana, di hadapanmulah akan mulai kurajut benang-benang cerita kita.
Mungkin tepatnya, benang-benang cerita cinta kita; cinta yang penuh harap dan usaha dan berbalas dan tulus dan penuh mimpi dan tidak pernah menyatu.

Bagian terakhir, anggap saja sebagai sakitnya sebuah tusukan dari sebuah jahitan. Sedikit demi sedikit, perih, menambahkan luka dengan luka.

Bahwa ketika bersamamu, aku ingin ada, adalah benar adanya.
Peduli adalah suatu bentuk yang harus direalisasikan, dikonkritkan.

Tentu aku sakit menyakitimu.
Tapi kurang lebih begitulah kehidupan berjalan. Sambil membawa setangah hati yang hancur lebur bersama setengah hati yang bertumbuh.


Mari, di hadapankulah, kamu bisa melontarkan apapun yang kamu mau.
Ceritamu membantuku merajut obat luka.

merajut purnama

Setelahnya, di hadapanmu juga, tidak pernah bosan akan kukatakan, kamulah makhluk terindah yang tercipta dengan luka, yang dari lukalah kamu terwujud.


Hingga beberapa waktu lamanya, entah aku tidak perhatikan, sekawanan awan yang menggigitmu lalu pergi.
Mungkin terharu, lalu menangis dengan cengengnya.



Menjadikan hujan pada suatu malam.



Selasa, 09 Juni 2015

langit merah jambu di atas stasiun


Dari sebuah jembatan penyeberangan, di atasnya terhampar langit yang cantik, di bawahnya terhampar kesibukan duniawi. Akhir-akhir ini lebih banyak orang yang tenggelam di bawah sana. Meski beberapa kali jembatan sudah meneriakkan tentang keindahan di atas, kaki-kaki yang menginjaknya tetap melangkah dengan cepat, dengan kepala-kepala yang ada di atasnya menunduk terus ke bawah. Belum ada jejak yang melambat, belum ada kepala yang menengadah.

Jembatan tidak pernah berhenti memberikan pertandanya, meski ribuan kaki sudah mengabaikannya. Dan lebih banyak lagi mulut yang memakinya. Pasalnya sudah dua minggu ini atap jembatan yang dibuat dari seng tidak terpasang dengan benar. Efek dari angin besar di musim yang mestinya sudah bukan musim hujan. Ia sering terangkat kemudian terbanting oleh angin. Orang memaki sebab selain berisik, jembatan dianggap tidak melindungi kepala para manusia yang berisi jutaan ide tentang kemajuan dunia entah apakah terlintas tentang kemaslahatan manusianya sendiri. Saat hujan turun, saat matahari terik, jembatan tidak melindungi dengan sempurna. Manusia terlalu takut idenya meluntur dan menguap. Manusia juga takut otaknya kosong. Maka mereka memaki, bukannya membetulkan. Katanya para mulut itu lagi, sudah ada orang yang bertugas dan orang yang bertugas itu tidak becus, katanya.

Bagi jembatan, apapun keadaannya, ia tetap tersenyum. Dengan langit cantik di atasnya, dengan kesibukan duniawi di bawahnya. Bagi jembatan, keadaannya yang bobrok kali ini justru menguatkan misinya untuk memperkenalkan temannya di pagi hari kepada hati manusia yang tenggelam. Beberapa kali dengan sengaja, ia membanting atapnya. Berharap manusia menengok ke arahnya. Sayang, belum ada kepala yang terangkat sejak tadi. Lagi-lagi keluhan yang ia dapatkan. Kaki tetap melangkah dengan cepatnya, kata-kata ketus meluncur dengan lebih cepatnya. Manusia lainnya lagi, jangankan peduli, mendengar saja tidak. Iringan musik yang menyumbat telinganya membuatnya tidak lagi mendengarkan sekitar. Jembatan tahu ini beberapa waktu yang lalu. Ia sempat merasa tersanjung ketika seorang anak muda menganggukkan kepala kepadanya. Setelahnya, jembatan tersandung. Ternyata yang jembatan dapatkan bukan anggukan kepala manusia sebagai salam, melainkan angguk-anggukkan kepala menikmati dirinya sendiri. Dan suara kenikmatan itu lebih kencang dan lebih membuai daripada sapaan jembatan. Jadi, percuma saja.

Jembatan sendiri tidak punya alasan lain mengapa ia sebegitu inginnya memperkenalkan teman paginya kepada manusia. Ia hanya ingin. Titik.

Sampai seorang wanita menapakkan kakinya pada anak tangga terakhir di atas jembatan. Kakinya terhenti bukan karena lelah. Kakinya terhenti karena otaknya menyuruhnya untuk berhenti. Kepala wanita itu menengadah, mencari-cari sumber suara yang terlalu berisik. Cukup terusik rupanya. Lalu ia berjalan perlahan sambil terus mendongak lalu memutarkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

Dan ia berhenti, beberapa detik. Sungguh, kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang menanti dari sebuah detik. Pada beberapa detik itu, jembatan tersenyum lebar. Jelas, ia menangkap satu manusia. Satu-satunya di pagi hari yang terlalu sibuk untuk semua manusia. Jembatan mengedipkan sebelah matanya kepada teman di atasnya.

Mulut wanita itu sedikit ternganga. Nafasnya tertahan. Matanya menerawang jauh ke sekitar. Pikirannya kosong. Seluruh isi pikirannya tersedot entah ke mana. Tubuhnya terangkat melayang-layang. Sesuatu merasukinya. Tersihir.  Sekelilingnya menjadi berwarna-warni. Tiupan angin seolah membawa melodi paling indah. Ia bisa melihat pohon di bawah sana melambaikan rantingnya dan tanpa pikiran yang mengontrolnya, wanita itu bisa dengan bebasnya melambaikan tangannya. Ia bisa melihat jembatan penyeberangan tempatnya berdiri mengedipkan mata kepadanya, tanpa ada sesuatu yang mengekangnya ia balas mengangguk sambil tersenyum manis. Ia bisa melihat tiang-tiang listrik memainkan kabelnya, bermain lompat tali dengan tupai. Dari kejauhan ia bisa melihat stasiun merentangkan tangannya untuk menyambutnya dengan pelukan. Sayup-sayup ia bisa mendengar panggilan, “Kemarilah, wahai wanita. Dari sinilah awal keberangkatanmu hari ini. Awal tujuan hidupmu hari ini. Biar kurangkul dan kutemani harimu.” Dari jarak yang sama juga bisa ia dengar dengan jelas gelak tawa dari anak-anak jalanan yang berlarian di sepanjang jalur kereta yang lama tidak digunakan. Jelas, pada saat itu, ia sedang tidak melihat tanggalan dengan coretan deadline tugasnya. Ia juga sedang tidak merasakan tekanan dari waktu yang biasanya memburunya. Ia juga jauh dari ketakutannya pada reaksi orang apabila tugasnya tidak sempurna. Jelas, pada saat itu ia sedang menyaksikan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri.

Dari atas jembatan penyeberangan, pukul 05.20 pagi hari, keajaiban terjadi.







Paginya wanita itu merona. Bukan oleh kata-kata puitis, juga bukan oleh sapuan pemerah pipi, melainkan oleh langit yang sempat ia tengok. Merahnya merasuk dengan penuh, sebelum sempat memantul sebentar di wajahnya. Hatinya merah jambu muncul ke permukaan, dengan semangat yang sempat terbuai oleh kantuk. Persis semu yang dipamerkan langit pagi malu-malu.



Hati dan matahari tidak lagi tenggelam.

Salam kenal, langit merah jambu, bisik wanita itu. Tidakkah indahmu perlu dirasakan oleh semua manusia? Tidakkah sesekali manusia perlu membuang jauh-jauh pikirannya terlebih dulu, meletakkan sejenak otak di kakinya, sebab selama ini tanpa disadari manusia menginjak-injak dirinya sendiri dengan pikirannya?


Salam kenal, wanita manis, ujar matahari lewat sengat yang menghangat. Jadilah manusia yang berbeda hari ini. Manusia yang berhati.




Jembatan penyeberangan menari sekencang-kencangnya sepanjang hari itu. Harapannya kepada manusia tidak pernah luntur. Dan satu manusia penuhi harapannya hari itu. 


Minggu, 07 Juni 2015

melesat


Ada satu orang dengan panahnya. Duduk dan terbaring. Menunggu:

Selesainya pekerjaan,
Sebuah hadir,
Matangnya masakan yang terlalu terburu-buru,
Datangnya keterpisahan sementara yang berujung pada pertemuan berikut,
Lelap yang damai hingga terjaga,
Duduk yang dekat di sebelah,
Sunyi yang membiarkan dekap berbicara,
Dering telepon dan nama tersayang di layar telepon,
Masuknya balasan pesan,
Seulas cerita,

Waktu untuk bilang sayang…



Tanpa sadar bahwa menunggu sudah lebih dulu menggaungkan rasa dan mendapati gayung yang bersambut. Lewat senyum manis yang begitu kental di sana. Senyum dari satu orang. 



Satu orang yang sibuk di balik tumpukan kertas berserakan, yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, katanya.
Satu orang yang siap sedia berdiri di tempat yang telah disepakati.
Satu orang yang berdiri di sebelah kompor memerhatikan tanpa banyak ikut campur.
Satu orang yang merayakan perpisahan sama hidupnya dengan pertemuan.
Satu orang yang memejamkan mata dan percaya malamnya akan tenang hingga esok pagi menyapa.
Satu orang yang menggeser dirinya beberapa sentimeter dan menjalarkan hangat.
Satu orang yang berdiri kemudian melayangkan peluk sembari duduk, tanpa suara.
Satu orang yang menjawab nada sambung kedua dengan suara lembut.
Satu orang yang juga mengingini sela untuk bisa mengetikkan balasan untuk setiap pesan.
Satu orang yang menjalani kesehariannya dengan sepenuh hati untuk nanti ia bagi ceritanya.

Satu orang dengan hati yang telanjur terpanah.


*

Selasa, 02 Juni 2015

ritual pagi


Uap kopi yang memantulkan nafasku dan memberi udara hangat yang menerpa wajahku adalah kamu. Wangi kopi yang kuhirup dari cangkirku yang pinggirannya bulat sempura –mengingatkanku pada cangkir favoritmu yang pinggirannya sedikit somplak, dan tetap sempurna- adalah kamu. Panasnya cangkir yang menjalarkan panas kopi hingga menjalar pada indera peraba di ujung jari dan tangkupan telapak tangaku adalah kamu.

*




Ada gambaran tentangmu yang menyemarakkan pagiku. Menghangatkan secangkir kopi yang sudah hangat. Cangkir yang bisa bertahan hangat hingga 20 menit setiap pagi. Ah, sebelum bertemu denganmu cangkirku hanya kuat 10 menit kurang, apalagi dingin pagi kota ini terlalu ganas.


Ada kopi yang biasa kuseruput sedikit-sedikit biar nikmat, apalagi ketika masih panas. Setiap teguk beberapa milliliter kopi yang memasukiku, membawaku pada beberapa kali teguk air liurku sebagai penebus banyak kata yang tidak bisa keluar dengan ringannya dari mulutku, saat bersamamu.

Tangan-tanganku ini lebih cepat berpikir daripada mulutku, kusadari. Mereka lebih cepat mengetikkan “Kamu manis hari ini” sehingga mulut kehilangan kesempatannya. Mereka juga lebih cepat menarik tanganmu yang sedang duduk dibandingkan mulut yang berkata, ”Ayo, ikut turun bersamaku.”
Ah, aku jadi iri dengan wajahmu, tanganmu, dan mulutmu, yang bisa dengan kompaknya menyerukan, “Kamu di sini saja dulu, bersamaku,” menahanku, sedikit berpura-pura dan sedikit serius. Kemudian kita berpisah. 
Tangan-tanganku sepertinya bisa lebih tahu apa yang harus dilakukan ketika bersamamu. Mulutku hanya tertutup dan menelan ludahnya. Mungkin itulah aku, yang bisa jadi tidak mau sembarang berkata-kata; atau bisa jadi juga pengecut, peragu, dan terlalu takut, meski inginnya ingin.


Maka pagi ini, aku meneguk kopi itu sambil berharap kopi mampu melarutkan banyak kata yang tertahan di tenggorokan.

Biar saja terbawa sampai ke lambung. Biar kata bisa mengikhlaskan dirinya untuk melebur bersama lakuku yang lain, tanpa ia harus menonjolkan dirinya. Aku tidak terlalu suka kata-kata yang hanya berupa deretan huruf, kamu tahu itu. Aku lebih menyukai kata-kata dengan rentetan makna.


Juga, pagi ini aku meneguk kopi itu dengan lebih perlahan, sambil memutar kembali seberapa banyak aku membawamu bersamaku dalam keseharianku.

Rasa yang terteguk, kadang membuatku tersedak, saking mengejutkannya. Ciri khasmu, kamu dengan respon-respon yang tidak pernah bisa kuduga- bisa, tapi seringnya salah duga! Respon yang membuatku perlu dan mau memahamimu, juga memahamiku, yang serba sisi. Meneguk berarti menerima yang masuk. Banyak hal tentang diriku, dirimu, dan kita, yang bisa dan mau kuteguk.


Perlahan, kuteguk hingga habis kopi yang tentunya sudah tidak lagi hangat apalagi panas, tepat pada menit ke-dua puluh. Suhunya kini sama dengan temperatur ruangan. Tegukan terakhir kopi itu cepat sekali berlalu.

Menyisakan aroma dan rasa kopi di langit-langit rongga mulutku. Hawa kopi yang sengaja tidak ingin kunodai dengan rasa lain. Aku bahkan sengaja tidak menenggak air putih. Belum ingin hawanya berganti. Masih ingin bersamanya, masih ingin terlalu posesif terhadapnya. Dan kubiarkan lidahku bermain-main dengan sisa rasa yang sengaja kupertahankan. Tampak senang ia lewat geliatnya.

Sisa rasa yang sama yang tertinggal pada bagian dalam cangkirku. Tidak ada lagi cairan yang tampak, memang kupastikan bahwa kopi itu adalah untukku hingga tetes terakhir. Namun, aromanya masih membekas, melekat. Sebelum sebentar lagi ia hilang tersapu air dan sabun cuci piring.

Rasa dan aroma yang jelas berbeda denganmu; yang tidak mudah hilang oleh berjuta rasa lain. Dan aku, tidak mau bersusah payah membuang tenaga sia-sia untuk menghilangkan setiap jejakmu.




Ngomong-ngomong tentang kopi yang kuminum, pagi ini bukan kopi dengan ampas. Pagi ini aku dengan acak memilih kopi sachet yang tanpa ampas. Seandainya pagi ini seperti kemarin atau beberapa hari acak yang lalu, maka selain aroma juga ada ampas menumpuk di dasar cangkir.

Persis rindu yang tersisa ketika bayangan dan kenangan dan harapan tentangmu bergantian kuteguk, sampai habis. Ampasnya yang pekat, rinduku yang pekat, menutup ritual pagiku.



Sampai besok, kopi di pagiku.