Tampilkan postingan dengan label gue aja :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gue aja :). Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2015

beberapa hari terakhir ini


Ada rasa yang tidak biasa saat aku bersamamu. Rasa bahagia yang benar-benar bahagia. Rasa nyaman yang benar-benar nyaman. Rasa sayang yang benar-benar sayang. Rasa yang utuh. Bukan rasa yang setengah-setengah atau seperempat-seperempat, yang mungkin kurasakan saat bersama yang bukan kamu.

Ngomong-ngomong tentang bersamamu, bersamamu pula aku menggeser paradigmaku tentang kebersamaan. Bersama denganmu menjadi hal yang sedemikian luasnya. Luas tanpa batas. Kita bersama lewati batas jarak dan waktu.

Seringnya, kita tidak benar-benar bersama berdua bersebelahan secara fisik. Maksudku, kita tidak benar-benar bisa saling melihat dengan mata kepala sendiri, juga tidak benar-benar bisa menyentuh dan memeluk dengan tangan yang nyata. Tetapi, kita selalu bersama. Lewat mata yang kutitipkan pada rintik hujan setiap waktu, juga lewat mata yang kamu titipkan pada dedaunan dan angin setiap waktu. Lewat kedua pasang mata yang pasrah dan saling percaya dan saling mendoakan kebaikan untuk masing-masing.

Iya, aku pernah meminta bantuan para rintik gerimis itu, masing-masing rintik menjaga masing-masing langkahmu. Satu rintik untuk satu langkah. Jadi, kamu tetap bisa melangkah dengan ringan (sebanyak apapun langkahmu hari ini), dan satu rintik hujan tetap bisa jatuh dengan sama ringannya setelah memastikan satu langkahmu baik-baik saja (tanpa harus menunggu kamu tiba di tujuan dengan selamat. Setelah itu, aku merasa menjagamu dengan sederhana itu, menenangkan.

Iya, kamu juga pernah bilang hal senada, bahwa kamu ingin mendaraskan harapan yang sama, agar tiap rintik gerimis, hujan sehalus apapun, menjaga langkahku ke manapun aku pergi, atau di manapun aku berada. Untuk setiap hembus nafasku, biar tiap rintik boleh tiba di bumi dengan lega mendengar terikan nafasmu.

Iya, kamu juga pernah menitipkan pada setiap gemerisik daun memastikanku aman di manapun aku berada.

Kebersamaan yang tidak memaksa. Kebersamaan yang baru untukku. Kebersamaan yang membarukanku.

Bagaimana tidak, sebelum ini aku adalah seorang yang pemaksa. Memaksakan kehendakku untuk menuntut lebih dari apa yang kudapatkan. Contoh simpelnya, ketika aku dapat dua jam bertatap muka, inginnya lebih lama lagi. Contoh lainnya, ketika aku dapat melihat dari kejauhan, inginnya lebih dekat lagi. Selalu ingin lebih. Dan selalu menginginkan apa yang tidak kudapatkan. Lalu akhirnya kecewa dan marah pada entah siapa.

Kebersamaan yang membarukanku kali ini mengajarkanku banyak hal. Untuk saling percaya satu sama lain. Untuk tetap berjalan dengan gagah di jalan masing-masing. Untuk tetap bisa tersenyum dan tertawa lepas lewat rangakaian abjad dan stiker lucu di layar ponsel. Untuk bisa saling menjaga dan menghargai waktu yang dimiliki oleh masing-masing, sehingga tidak peduli lagi dengan pertemuan dua jam atau dua menit- sebab tak ada lagi yang dituntut lebih. Untuk bisa saling menjaga perasaan yang kadang tak tertahankan. Untuk belajar sabar dari jarak -yang waktu itu 15 meter atau untuk jarak yang tidak sempat diukur. Untuk saling menghidupi satu sama lain, dengan cara kita masing-masing.

Lucunya, kita selalu bersama, tapi kita juga saling merasakan rindu. Akhir-akhir ini, aku semakin mudah merasakan kangen sama kamu. Padahal kita bertemu, langsung dan tidak langsung. Kebersamaan yang menggelitikku, sebab belum pernah juga aku merasakan hal seperti ini. Yang pernah kualami adalah rindu ketika tidak bersama.

Rindu saat bersama... mungkin itu yang salah satu yang membuat hubungan ini berharga. Mungkin inilah tandanya bahwa hubungan ini sedemikian berharga. Kata orang, "Kamu akan merasa memiliki setelah kehilangan," Buatku, kali ini, tidak. Sebab aku memiliki kita dalam hubungan ini, sebelum salah satu dari kita menghilang.

Ah ya, hal lain yang menyenangkan saat bersamamu, selain keutuhan menjadi diriku adalah melihatmu yang menjadi dirimu. Aku lebih banyak menghargaimu terlebih dahulu, baru kemudian menghargai kebersamaan ini. Iya, kamu yang banyak cerita, kamu yang ceria, kamu yang bersemangat (sepertinya kabar gembira sedang berpadu mengelilingimu), kamu yang jahil (ugh), kamu yang berbeda. Sejujurnya, tidak banyak kata yang bisa keluar dariku untuk merespon cerita-ceritamu. Mungkin karena aku terhipnotis. Tapi, tanpa berniat memaksakan diri mendengarkanmu, aku memang berniat untuk memberikan waktu dan tenaga, seremeh apapun, untukmu. Seremeh botol aqua di kala kamu haus karena green tea yang terlalu pekat itu! Yaa, aku tidak tahu apakah aku bisa memberikan hal besar padamu. Selama ini, mentok di cokelat, yang selalu saja langsung membuatku teringat kamu. Habis, melihatmu yang berbinar itu menjadi sesuatu yang priceless untukku. Persis anak kecil yang menggemaskan, yang membuat aku rela untuk memanjakanmu (entah kamu butuh atau tidak).

Dengan kebersamaan ini, aku jadi semakin menyayangimu.

Aku tidak tahu seberapa besar persisnya, toh sayang tidak punya takarannya ya. Tapi yang pasti, aku jadi semakin ingin mendengarkanmu, jadi semakin ingin mengetahui kabarmu, semakin ingin membagi ceritaku, semakin ingin menghabiskan waktu bersamamu, semakin ingin mengganggumu, semakin ingin menyenangkanmu, ... Ingin yang tidak harus selalu dituruti, tidak harus dituntut, dan tidak harus dipaksakan.

"Kalau kamu, mau hatimu kujaga?"
"Iya, terima kasih mau menjaganya..."

bosan?

Aku belum bosan denganmu. Entahlah, katanya, pada suatu titik manusia wajar mengalami kebosanan, kejenuhan, bisa pada rutinitasnya, pada pekerjaannya, bahkan pada orang yang disayanginya.

Apa yang terjadi padaku beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali dipengaruhi oleh hal ketiga, orang yang disayangi. Kamu. Dan itu berdampak pada sebagian besar keseluruhan hariku.

Dua tahun aku mengenalmu, sekarang hampir tiga. Tidak ada yang spesial yang lain, kecuali ya dirimu sendiri. Sejak pertama berjumpa sampai dengan detik ini. Kamu terlalu menarik untuk diabaikan. Kenapa Tuhan memberiku rasa ingin tahu yang besar serta hati yang luas, mungkin untuk mengujiki. Mengujiku bagaimana caraku menempatkanmu, yang terlalu luas hingga sempat kumerasa bahkan hatiku belum cukup luas menampungmu.

Maka beginilah aku setiap harinya, dengan rutinitas yang mungkin itu-itu saja, tetapi dengan dinamika yang penuh gejolak. Rutinitasku adalah mengecek kabarmu. Kabarmu itu yang beraneka ragam setiap harinya (bahkan ketika kamu menjawab, "hariku biasa saja.")

Hujan lagi. Jatuh di daun lagi. Jagoanku dan jagoanmu bertegur sapa. Apa kabarmu hari ini?

Terkadang, didorong dengan rasa entah apa, aku pernah menjadi bagian dari keseharianmu. Tidak selalu ingin, tetapi justru yang terkadang dan tidak pasti itulah yang kemudian memunculkan debar yang lebih terasa. Ya, katakanlah aku pencari sensasi. Tapi, bukan itu prioritasku. Aku tidak mencari debar itu- yang sebaliknya terjadi malah mungkin debari itu yang mencariku, makanya ia selalu merebut aku, ketika aku bersamamu.

Menjadi bagian dari keseharianmu, sungguh sesuatu yang menyenangkan. Yang membuat aku yang sebelumnya- yang jauh dari rasa syukur, jauh dari rasa menghargai, jauh dari rasa peka terhadap hal yang remeh. Keseharian bersamamu, menyederhanakan aku.

Mungkin buatmu, aku terlalu mengejutkan. Perlukah aku minta maaf untuk hal ini? Karena, masuk ke dalam ceritamu juga terlalu mengejutkan buatku.

Pertama, aku bukan orang yang gampang menyukai orang lain, dalam hubungan apapun. Tapi, untuk poin pertama ini, aku mudah sekali tertarik dengan sosokmu, dengan pribadimu. Kurasa, kamu memang punya bakat untuk mudah disenangi orang lain.

Kedua, kamu agak misterius, lalu menjadi sangat misterius. Sampai akhirnya aku mengajak diriku untuk menemukanmu.

Dua hal itu, yang sampai saat ini terus berkembang dan semakin mengembangkan rasa yang perlahan tumbuh dan mematikan tombol bosanku.

Jadi, kalau setiap hariku menjadi sangat berwarna, menjadi sangat ramai, menjadi sangat "melelahkan", ya itu karena aku belum bosan.

Minggu, 21 Desember 2014

Alasan mengapa aku senang memeluk sore.

Burung timpa-menimpa saling memamerkan suara merdunya pada sore hari.


Mataharinya lembut, dengan awannya berebut. Sama pamernya dengan para burung.  

Waktunya menyesap secangkir kopi panas atau teh manis panas.

Angin yang beradu dengan kepulan asap dari cangkirku.

Daun yang bergoyang-goyang seolah cemburu pada asap yang disapa angin. Ia juga disayang oleh anginnya.

Belum lagi kalau kenangan dan nostalgia meniupkan dirinya sendiri, menantang angin sore, maka habislah aku dalam tenang dibelai keduanya.

Terlalu banyak tabrakan kejadian yang terjadi pada suatu momen di sore hari. Yang setiap tabrakannya memungkinkan munculnya letupan baru pada otak yang sederhana ini.


Sabtu, 20 Desember 2014

day 27

Surat hari ke-27, pada tanggal ke-20 di bulan terakhir, tahun ke-86.

Seorang teman bertanya padaku, "Mau apa kamu, dengan kenangannya? Memangnya kamu bisa membuatnya hidup bersamamu secara nyata?"

Kalau kenangan itu sebegitu hidup dan nyatanya, bagaimana? Kalau kenangan itu yang membuatku bisa hidup, bagaimana? Kalau dia tidak hanya sesepele kenangan, bagaimana?

Selamat ulang tahun, wahai perempuanku. Perempuan yang boleh kugenggam beberapa harapannya selama hidup dalam jemariku. Perempuan yang mengizinkanku membawa serta seper-berapa kehidupannya yang kuketahui dalam setiap langkahku.

Selamat ulang tahun, inspirasiku. Engkau tidak akan pernah mati. Sejak dulu aku berjanji.

Minggu, 07 Desember 2014

imaji

"Ada yang ganjil malam ini, sebab tidak ada yang menggenapi imajinasi malam ini..."

*

Langit tidak pernah berhenti memesonaku. Setiap perputarannya. Di sana aku menemukanmu. Termasuk perputarannya malam ini.

Malam ini, purnama malu-malu mengakui kerinduan pada buminya. Pada manusia di ujung sana, ia perlihatkan sedikit rupanya yang bersinar. Berharap-harap cemas yang dirindukannya menerima pesan rahasia darinya. Pesan mengajak bermain. Petak umpet. Permainan anak kecil yang menyenangkan.
Kamu sembunyikan dirimu, agar kucari rinduku.
Tampak temaram dan syahdu sekali langit malam ini. Awan yang berserakan tampak jelas di sekeliling purnama. Entah mana yang ingin digapai, purnamanya atau awannya. Keduanya tampak menggemaskan. Keduanya menggoda untuk dimiliki. Karena memiliki keduanya berarti memiliki seutuhnya.
Menyayangimu, menyayangi kamu juga sekelilingmu.
 *

"... tapi kemudian aku berpikir ulang. Toh menyayangimu bukan sekadar imajinasiku."

Senin, 01 Desember 2014

hilang rasa



Aku sadar, ketika aku menulis, aku akan kehilangan sesuatu. Sesuatu itu adalah rasa ketika aku menghayati apa yang kutulis. Tapi tak mengapa, kuanggap itu sebagai pengorbanan. Sebab nanti, ketika aku membacanya kembali, bahkan pada detik pertama usai kutuntaskan tulisan ini, rasa yang hampir sama akan muncul.

Seperti,

Rasanya menyapu satu sudut ruang berdebu yang dipenuhi pelangi tertutup awan. Ya, debu itu yang kita sapu. Ya, pelangi itu yang kemudian sama-sama kita lihat. Kamu mengajakku untuk melihat keindahan dalam diriku.

Rasanya menjadi ilmuwan cilik yang mengamati perkembangan kupu-kupu. Ya, kita setertarik itu. Lain orang bisa jadi tidak seperti itu. Dengan perlengkapan kaca pembesar, kita bertualang di kebun belakang. Menemukan telur di daun, berteriak-teriak kegirangan melihat ulat, diam dan bertanya-tanya melihat kepompong, serta bersorak gembira berlarian mengejar kupu-kupu. Terkadang kaca pembesar itu terarah pada masing-masing kita, sehingga mau tidak mau, terlihatlah yang tadinya tidak tampak.  Hingga pada akhirnya, kamu, tak sengaja mengajakku untuk berani melihat kebaruan dalam diriku. Bagaimana tidak berani? Tidak semua enak dipandang mata. Beberapa kali aku perlu memalingkan kepalaku atau sesekali menutup mataku atas apa yang kulihat. Ada yang menjijikkan seperti telur yang menggumpal, ada yang mengerikan seperti monster ulat bulu, ada yang mengerak seperti kepompong, ada yang cela seperti sayap kupu-kupu yang pernah kita rawat bersama. Kemudian aku ingat benar rasanya, ketika kamu mengajakku perlahan mengarahkan wajahku yang takut, ngeri serta penuh keraguan, untuk melihatnya. Untuk menghadapinya.  

Rasanya menembus hutan belantara, hutan labirin, dan segala perjalanan teka-teki. Terantuk, tersesat, terjebak. Bersama.

Rasanya menumpahkan impian dalam wujud nyata.

Rasanya membawamu dalam beberapa bagian cerita, tertulis oleh pena atau terekam dalam sukma.

Rasanya menuangkan imajinasi tanpa bertepi tanpa batas. Sama-sama liar kita, makanya lebih baik dilepas. Jiwa-jiwa yang tidak terikat toh nyatanya saling terikat.






Rasanya, menyayangimu.

biar terungkap



Ada kalanya aku perlu diam. Diam dan sama sekali tidak menjawab pertanyaanmu. Sebab jawabannya selalu kamu.
Seperti impian kecilku bercerita. Beribu alasan bisa kubuat tentang cerita itu. Tapi izinkan aku membukanya di sini. Di tempat privasiku, di ruang publik ini. Aku membayangkan bercakap denganmu. Intim berdua. Seperti yang biasa kita nikmati. 

Setiap orang punya sosok yang tidak pernah mati.
tidak. akan. pernah. mati.
Dan untukku, itu kamu.
Apapun pertanyaannya.

Rabu, 19 November 2014

siluet dalam hujan




Pojok bergerak itu selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Sebab, meskipun bergerak, selalu ada ada satu titik yang diam. Stagnan dan tak berubah. Pojok yang diam itu, kamu. Pojok yang berseberangan. Pojok yang menenangkan. Sebab dari pojok berseberangan itulah aku bisa melihat gerak-gerikmu.

Pojok diam yang bergerak kali ini menawarkan pesonanya. Pojok di sore itu bekerja sama dengan semburat matahari yang redup. Pojok di sore itu bekerja sama dengan air langit yang menderas. Sehingga yang tadinya jelas, menjadi samar. Mata yang indah lembut itu sirna. Hidung yang mancung itu berubah warna menjadi kehitaman. Seluruh wajah dan badannya kini sama hitamnya dengan rambutnya. Hanya ada satu yang tidak berubah, lekuknya dari atas hingga seperempat badannya. Ya, tiga-per-empat-nya lagi terhalang oleh orang lain. Lekuk yang aku kenal meski tidak pernah sekalipun kujamah. Lekuk yang dari kejauhan bisa kukenali. Lekuk yang indah. Lekuk yang saat itu, akhirnya berani kutelusuri. Mulai dari ujung rambut yang lembut. Turun ke poni menyamping. Turun ke telinga yang menyembunyikan sisa anak rambut. Turun ke mata yang saat itu gelap seperti terpejam. Turun ke hidung yang mancung. Turun ke bibir yang tipis. Turun ke dagu yang menggemaskan. Turun ke leher yang jenjang. Turun ke bahu yang ditumpangi sebelah tas. Turun ke belikat putih yang samar. Berhenti di sana.  


Sepotong siluet tertabrak rintik hujan dari celah jendela. 

Ada yang bergetar di pojok sini. Ada yang terjeda di momen ini. Ada yang tertabrak di dalam sini. Ada yang sejuk di sekitar sini.

Siapa bisa bilang, dalam samar, kita hanya akan mendapatkan kekosongan?
Siapa bisa bilang, dalam samar, kita hanya akan melihat ketidakindahan?
Aku tidak bisa bilang demikian, sementara aku melihatmu.

Dalam keremanganmu, aku membawa doa yang paling indah.
Dalam keredupanmu, aku membawa doa yang paling baik.  
Dalam ketiadaanmu, aku membawa doa yang paling sederhana.
"Bersama selamanya."

Maafkan kelancanganku,
Bersama selamanya, bisa menjadi keindahan dan kebaikan yang paling sederhana. Bersama selamanya, bisa menjadi kesederhanaan yang paling indah dan baik.

Duduklah terus di pojok sana. Bermainlah dengan angin yang menyapa lembut dari jendela sisi kananmu. Tersenyumlah bersama pemikiran yang melanglang buana lewat pintu di hadapanmu. Diamlah dengan ketakziman yang ditawarkan sebuah pojok. 

Aku akan duduk beberapa jauh di sisi sini. Tak mengapa. Karena keterpisahan ternyata hanya masalah rasa.

Kamis, 13 November 2014

“Who doesn’t want to have a life like this?”

Sebuah sudut di pertengahan kota menjadi saksi bisu kebimbangan seorang perempuan. Ya, justru yang diam itu biasanya lebih bisa menyimpan cerita sedalam dan sesampah apapun. Mari kita ucapkan terima kasih atas keheningan yang kali itu tidak bisa ditawar.

Selain sudut, ucapkan salam perkenalan pada satu sosok yang bisa kita sebut sebagai saksi hidup kegamangan perempuan itu. Perkenalan tidak perlu harus selalu berbasa-basi. Jadi aku tidak perlu memperkenalkan namanya. Juga alamatnya di mana, atau apa hobinya. Pribadi itu, tidak cukup dijelaskan melalui atributnya. Lagipula atribut yang melekat itu suatu hari akan dilepas juga. Izinkan aku memperkenalkan sosok ini dengan kalimat yang menjadi bukan hanya menyapa, namun menegur lebih dalam perempuan gamang itu, “Kenapa sih, gak terima saja setiap yang datang? Kenapa sih mesti ada standar yang tinggi bahkan untuk ‘hadiah’ yang datang kepadamu?”Aku –yang bersembunyi di antara tembok bata- yakin masih banyak lanjutan kenapa dan kenapa yang hendak ditanyakan, namun untuk kali itu, cukup dua tanya kenapa yang ia lontarkan.

Belum sempat perempuan gamang itu membalas tegurannya, ia terserap ke dalam lubang keheningan yang semakin menggoda. Meninggalkan sudut ruang yang mati, meninggalkan sosok perempuan yang hidup.
*


“Bego lu, mak!” teriak seorang perempuan muda di Stasiun Tebet. “Masuk ke sini tuh, mesti ditempel kartunya! Kalau udah ditempel, cepetan masuk, makanya! Kalau kelamaan ya, keburu gak berlaku lagi! Gimana sih?! Kaya orang bego aja!” racaunya masih meluapkan kekesalannya. Perempuan tua yang dimaki menunduk diam. Diam saja membiarkan anak perempuannya membantunya untuk bisa masuk ke area peron. Bagaimanapun anak perempuannya itu sudah membantunya, batinnya. Dan untuk seorang ibu, mungkin saja hal itu sudah sangat cukup.

“Cepetan dong, mak! Ini ‘ntar lagi datang keretanya dari Manggarai!” perempuan muda itu, masih dengan nada yang tinggi, antara menggandeng atau menarik ibunya berjalan mendekati area peron. Perempuan tua itu sudah berjalan secepat mungkin, tetapi memang cacian dari perempuan muda itu tetap saja lebih cepat daripada langkahnya. Ah, kecepatan suara bukankah memang lebih cepat daripada kecepatan gerak? Ia mencoba untuk mempercepat langkahnya. Untuk itu ia harus menunduk memerhatikan jalan di depannya. Ternyata lagi-lagi, menunduk dianggap sebagai suatu kesalahan oleh si perempuan muda.

“Yaelah, maak! Duduk sini, ngapain jalan jauh-jauh ke sana. Nih ada tempat duduk! Jalan, main jalan aja, gak lihat-lihat anaknya ke mana,” katanya gemas. Raut wajah kesal mewarnai perempuan muda yang duduk di kursi peron. Perempuan tua yang tersadar oleh teguran perempuan muda, segera berbalik badan dan berjalan pelan menuju tempat duduk. Kesadarannya sungguh dituntut untuk cepat sekali berganti. Belum selesai menyadari cara masuk peron, sudah harus berjalan cepat. Belum selesai menyadari perlunya berjalan cepat, sudah harus duduk. Apakah memang secepat ini kesadaran bermain dalam kehidupan di usia senja? Dan perempuan tua itu yang terlalu lambat sehingga kewalahan? Tidak adakah kesempatan yang diberikan oleh waktu, paling tidak untuk mengizinkan kesadarannya sekedar mengambil nafas?

Terduduk perempuan tua itu. Mengambil nafas. Beruntungnya, perihal mengambil nafas tidak ikut-ikutan mencari perhatian untuk disadari. Beruntungnya, manusia memang tidak pernah bisa sadar pada seluruh hal di sekelilingnya sekaligus. Perempuan tua itu bisa semakin kewalahan ketika dituntut juga menyadari dirinya bernafas. Perempuan tua itu masih bisa memegang bangku besi itu dan meletakkan pantatnya di sana.

Dalam duduknya, perempuan tua itu membiarkan dirinya beristirahat sejenak. Belum lama duduk, perihal bernafas sudah memanggil-manggil untuk disadari. Ah, betapa kesadaran di usia senja cepat sekali muncul.

Lalu bagaimana kesadaran memainkan perannya dalam kehidupan usia muda? Sadarkah perempuan muda itu dengan apa yang dia lakukan terhadap ibunya selama delapan menit terakhir? Apakah kesadaran berjalan selambat itu, hingga sebuah ketidaksantunan dianggap sebagai suatu kewajaran? Hingga beberapa tatap mata heran dianggap sesuatu yang lalu? Hingga untuk beberapa menit ke depan, ia akan melakukan hal yang sama sebagai proses pembelajaran dan berujung pada kebenaran versinya? Mungkin memang begitulah. Suatu kewajaran apabila anak muda belum cukup sadar atas kehidupannya. Juga, dapat dimaklumi apabila anak muda belum cukup sadar tentang diri dan sekitarnya. Kelak waktu yang membantu menyadarkannya.

Atau, adalah suatu anugerah, ketika seorang anak muda seusiaku memanfaatkan kebebasan yang terberi sepenuhnya untuk menyadari -setidaknya seper-berapa bagian- kehidupan? Bukankah seorang kawan juga pernah mengatakan bahwa menjadi bulan yang kepagian bukan tidak bisa dinikmati indahnya? Sepertinya tidak perlu menunggu usia senja untuk menikmati kesadaran. Sepertinya tidak perlu menunggu waktu sore senja untuk menikmati keindahan. Apalagi untuk menikmati keindahan kesadaran, mengapa harus menunggu?


Itu hadiah pertama.


*
(bersambung)





Sabtu, 08 November 2014

cuplikan




0
Setiap hari punya ceritanya sendiri. Garis besar kehidupan selalu sama, tentang kejutan dan kesaksian. Tugasku sangat mudah, tinggal terkejut-kejut, tinggal menyaksikan. Begitupun dengan hari ini. Kesaksian sebuah rangkaian paralel berbagai kehidupan dalam satu hari.

1
Ada bayang perempuan yang setia mendampingi lelakinya yang sakit. Lelakinya berdiri kokoh nyata, perempuannya menyertai beserta rapuh. Begitulah memang yang namanya bayang. Akan pudar, tapi tidak akan menghilang. Perempuan itu tidak pernah mengucap cinta pada lelakinya. Tetapi dengan menjadi bayangnya, yang ada di setiap langkah, begitulah perempuan merayakan cinta. Dengan menjadi bayang, ikrar bersama dalam suka dan duka menjadi semakin dalam. Bayang bukan pengecut. Ia tidak akan pernah lari. Bayang setia.  Dalam terang dan dalam gelap.

2
Selalu ada saja jiwa yang berontak dan meronta-ronta. Ingin bebas, jeritnya. Ironisnya, jiwa itu tidak paham benar dengan kebebasan. Berontak yang tak berotak, apa jadinya selain sia-sia. Akhirnya sibuk sendiri mencari-cari definisi, sibuk sendiri mencari-cari pembenaran, lalu merasa benar dengan definisi yang dicari-carinya itu. Entah kapan tiba waktunya, jiwa yang terlambat menyadari akan berpikir, bahwa ia baru saja melewati momen penemuannya. Tepat ketika ia menyibukkan diri mencari-cari.

3
Pintu ada untuk diketuk. Pilihan untuk membuka atau membiarkan tertutup ada padanya… Terkadang hujan rintik mengetuk menyapanya sembari lewat di depan rumahnya. Apalah rintik, toh air biasa. Tetapi tidak demikian dengan perempuan itu. Lihatlah, dari gerimis ia belajar tentang arti sebuah kunjungan. Maka perempuan itu membukanya, menyapa balik dengan sangat ramah…  Lain waktu ada lagi manusia lain mengetuk pintunya. Sekadar menyelipkan surat di bawah celah pintu, bahwa manusia tanpa terkecuali adalah manusia yang utuh. Usai mengetuk, belum sempat dipersilakan masuk, manusia itu sudah pergi. Maka dibawanya masuk pesan di depan pintu itu... Pernah juga ada cerita yang masuk tanpa mengetuk sopan melainkan menggedor keras. Begitulah kejutan kehidupan, selalu datang dengan cara yang tidak terduga. Awalnya takut untuk membuka pintu itu. Tapi dari setiap ketuk selalu ada maksud kedatangan yang dibawa. Akhirnya perempuan itu berusaha menerima si tamu lewat intipannya dari celah pintu. Menerka-nerka maksud kedatangan yang kali ini…

Lucunya, perempuan itu selalu memilih untuk membuka pintunya. Apa yang menjadikan perempuan itu kaya, adalah kesempatan. Perempuan beruntung itu pandai sekali memanfaatkan kekayaannya. Mengolah menjadi harta yang tak ternilai harganya. Harta yang jarang diperebutkan oleh orang-orang masa kini yang masa bodoh.

4
Biru keungu-unguan warnanya. Bukan, ini bukan warna bunga. Ini warna lebam. Dunia dengan warna juga ternyata tidak seindah itu.

5
Hidup akan menceritakan kisahnya pada kita, dengan caranya sendiri. Tanpa kita harus memaksa. Memaksakan diri dan memaksa orang lain. Diam dan dengar saja. Seperti mendengar detik jam yang terus berdetak, ia akan datang.

6
Setiap orang butuh pahlawan, meski pahlawan kesiangan sekalipun. Frasenya tetap diawali dengan pahlawan. Sayangnya, rasio permintaan pahlawan lebih banyak daripada pemenuhan sosok pahlawan. Karena setiap orang mengharapkan orang lain sebagai pahlawannya, orang lain mengharapkan orang lainnya lagi sebagai pahlawannya, dan seterusnya. Permintaan pahlawan melonjak drastis, kebutuhan yang tersedia minim. Kadang manusia menutup matanya sebelah, memandang hina kepahlawanan bagi dirinya sendiri. Lalu ia terinjak dan merasa butuh pahlawan yang lain. Lalu ketika pahlawannya tidak datang, ia memaki soal keadilan. Heran, berteriak-teriak menuntut keadilan sambil secara nyata berlaku tidak adil pada dirinya sendiri. Di mana integritas?

7
Ada yang termangu menatap meja, kosong, ketika ia duduk di kafe. Tidak semua hal yang menyakitkan perlu mendapatkan porsi untuk dirasakan. Kalau terlalu sakit dan berdampak pada kehancuran, lebih baik dianggap tiada. Entah, mungkin perpaduan pahit dan asam memang membuat mati rasa. Maka perempuan itu diam dan berbisik bukan pada sahabatnya melainkan meja kosong,. Tentang kekosongannya yang akan ia isi dengan bibit kebaikan, sebelum kembali lagi pada kekosongan. Lagipula, kehidupan bukan perkara siapa yang menuai kebaikan paling banyak. Kehidupan perkara peninggalan jejak dan penanaman bibit.

8
Hadiah kecil itu diterima dengan gelak tawa yang renyah. Sebuah wafer renyah tanpa harga karena cuma-cuma. Cuma, ada satu hal yang menjadikannya berharga. Memberi adalah bagian dari kehidupan. 

9
Perempuan tua yang kesakitan tersenyum melihat putrinya ada di ruang teras rumah terapi. Putrinya selalu menjadi kejutan kecil baginya, sejak dulu. Sejak perempuan tua dinyatakan hamil, sejak perempuan tua dirujuk untuk melahirkan lewat operasi, dan sejak-sejak yang lain. Sama seperti yang sudah-sudah, sakitnya siang ini mendadak lenyap. Hanya karena melihat putrinya ada di ruang teras rumah terapi. Menyambut, memeluk, dan mencium pipinya.

0
Inilah rangkaian kejutan yang sayang untuk dilewatkan. Inilah rangkaian kejutan yang memanggil untuk disaksikan. Mari duduk bersamaku. Terkadang kita akan jalan sedikit. Sesekali melompat dan seringkali akan bergulingan. Setiap hari punya ceritanya sendiri. Kita buat versi kita.