Tampilkan postingan dengan label terang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

tentang matahari



Aku senang bercermin di antara gedung-gedung tinggi di perkotaan itu. Aku tampak cantik. Tidak banyak yang menyadari kecantikanku sekaligus kerapuhanku. Sebab lebih banyak orang yang menganggapku perkasa dan berkuasa. 

Manusia selalu berkata, bersinarlah! Tapi manusia juga lupa bahwa bersinar, berarti berkorban. Berani untuk pudar lalu hilang. 

Mungkin hanya soal waktu, manusia-manusia itu akan menyadari bahwa mereka tidak perlu selamanya bersinar. 

Bercerminlah. 

Selasa, 03 Juli 2012

terang (3)

Wahai wanita, memang bukan untuk mengeluh kamu diciptakan. Tahukah bahwa dirimu lebih berharga dari sekedar mengeluh? Mungkin sekelilingmu bosan mendengar celotehmu tentang kehidupan yang tidak adil ini. Tetapi mungkin juga pohon jenuh menjadi pencipta udara dan tembok menyesal menjadi pembatas dan dipersalahkan, toh mereka diam. Memang mereka tak berperasaan, tak seperti kita manusia. Hanya saja rasanya kita perlu belajar sedikit saja dari mereka. Bahwa apa jadinya dunia tanpa pohon, dan apa jadinya kehidupan tanpa batas? Pertanyaan sama, apakah demikian kita perlu ada di sini? Ada, untuk berdaya guna. Bukan apa yang bisa dikeluhkan dari yang terjadi, tetapi apa yang bisa dilakukan dari kejadian itu. 

Senin, 02 Juli 2012

terang (2)


Bagaimana bisa aku melihat terang kalau selama ini, masih belasan memang usiaku, sekelilingku adalah gelap? Mana aku tau terang itu seperti apa, kalau selama ini yang selalu akrab adalah gelap? Apa yang kata orang, ada baiknya kau tau gelap untuk tau apa itu terang? Di mana letak indahnya gelap kalau memang diantara gelap itu hanya semburat suram yang selalu kudapat, bahkan yang secercah terang pun tak nampak? Di mana ujung dari segala derita ini?

Ah, sialan! Lagi-lagi menulis gila. Ya, daripada aku jadi gila. Atau memang aku sudah gila? Tapi sepertinya belum , karena aku masih sadar bahwa aku gila, dan itu berarti aku tidak gila, bukan? Tuhan, kalau aku lebih baik gila, gilakan saja aku. Atau masih adakah zat yang bisa kupanggil dengan sebutan Tuhan? Atau kalau tidak ada, seseorang, kumohon, matikan aku. Atau masih adakah sosok manusia yang bisa kupanggil dengan seseorang? Atau kalaupun tidak ada seorangpun kecuali aku, bukan tidak mungkin aku mematikan aku.
Lebam semua. Mungkin juga aku lupa bahwa merah adalah darah dan putih adalah tulang. Sebab semua biru kehijauan serba kehitaman, memar.

Nyeri sekali, kepalaku, kena tendang. Berdarah sedikit sepertinya karena sempat kuhindari lemparan itu. Berdenyut nadiku cepat sekali, beruntung bisa kulawannya dengan teriakan. Perih, tergores kuku yang mencakarku.

Aku bertanya-tanya apakah hati itu tetap merah kalau terus dilukai dan memar hingga bernanah? Tidakkah ia biru lebam dan malah harusnya hancur berkeping? Sudah bertahun-tahun. Lebih pekak daripada telinga yang mendengar caci, karena lebih dalam kena tajamnya lidah yang menusuk. Juga rasanya lebih ringkih daripada linuku akan narkosa. Tapi dia belum pernah mati sekalipun.

Entah siapa yang harus dipersalahkan atas segala hal yang menyiksa ini. Orang bilang aku patut bersyukur karena diberikan hati yang hidup, nyatanya aku tidak hidup. Orang bilang aku beruntung karena masih bisa merasa, nyatanya aku mati rasa. Aku tidak percaya pada orang-orang. Aku percaya pada terang yang mana kini remang. Paling tidak, pernah percaya.

Gelap. Aku takut. Tidak ada terang itu. Sampai belasan tahun kemudian, terpaksa aku hidup dalam bayangan, semua tanpa berontak. Karena yang aku tahu, sekali berontak, sekali sepak. Sekali berontak, sekali sayatan. Sekali berontak, sekali bunuh diri. Sekali lagi, maka aku mati. Maka aku biarkan diriku hidup, seadanya, daripada mati tanpa daya.

Soal cita-cita, rasanya hanya itu yang menguasai pikiranku setiapku melangkah. Orang tua aku tak ingat, sahabat aku tak ingat, lupakan semua. Ketika sudah tidak ada orang lain lagi di dalam hidupku, untuk siapa lagi aku hidup kecuali untukku? Dan begitulah kisahku belasan tahun lamanya, terseok. Akhirnya aku berhasil melarikan diri dari rumah. Aku mandiri. Aku kuliah, aku bekerja, aku membayar kos-kosan, aku membeli baju makan sendiri, aku bersusah payah menabung untuk semua itu, aku mengejar beasiswa, aku harus lulus, aku punya cita-cita, aku bertumbuh dewasa.

Tulisan yang patah-patah ini persis seperti perjalananku hingga kepala dua ini. Tentunya zat yang bernama Tuhan itu dengan kehendakNya yang seenaknya menggariskanku demikian. Garis yang patah-patah. Dan setiap patahan memaksaku untuk bertumbuh dari rasa sakit. Terus dan terus demikian saja hingga terbentuklah satu kesatuan garis yang menyusun liku hidupku. Aku tak pernah bisa membayangkan akan sepanjang apa garisku. Akankah dia berhenti di patahan kesekian atau, ah, sudah aku tak akan bisa mengetahuinya.

Mungkinkah aku adalah petunjuk? Kadang aku pernah berpikir demikian. Petunjuk bagi orang lain. Pernahkah kalian melihat buku panduan untuk anak sekolah, hubungkan titik-titik berikut dan tebak gambar apakah itu? ya, mungkin saja dari garis patahanku nantinya kalau disusun dan digabungkan akan jadi gambar yang menyenangkan, membahagiakan.

HAHAHA lagi-lagi menulis bodoh, wahai pemikir bodoh! TERbodoh. Sudahnya miris karena setiap perjalanan adalah luka, bahkan harus sampai menghibur diri sendiri untuk mengobatinya?? Sudah kuremas saja kertas tulisan bodoh itu. Remas yang berisi sedikit asa, mungkin aku bisa seperti itu. Remas yang penuh dengan keringat di tangan, tanda perjuangan mungkin aku akan menjadi seperti itu. Baiknya kubuka kembali kertas itu dan kuselipkan di diariku. Dan kubiarkan mata sembabku memaksaku memejamkan mata. Mudah-mudahan malam ini sedikit kebaikan mimpi senantiasa hadir menemaniku.

“Akulah terang yang tenggelam. Akulah yang kucari. Akulah yang kudamba.”, bisikku sebelum benar-benar terlelap dan suara pecahan piring terdengar mengawali mimpi malam ini. Mimpi yang sama. Tidak ada yang baik. Aku tidak akan jadi terang. Terangku hanya lampu kamar kosanku. Semoga aku bangun besok pagi dengan melihat semburat lampu sebagai terang pertama yang kudapati setiap harinya. Paling tidak, aku akan bangun. Selamat malam duniaku.
*

Senin, 11 Juni 2012

Tentang menjadi terang dalam 4 hari (1)




Kisah ini adalah perjalanan mereka masing-masing. 4 orang. Kesemuanya wanita. Kesemuanya muda. Tapi tidak kesemuanya bahagia. Mereka tidak saling mengenal, dan memang tidak perlu untuk saling mengenal. Hanya saja kosmos yang berbicara melalui keajaiban paralelnya menjadikan mereka mengenal satu sama lain, bahkan mendalaminya.

*

Hari pertama. Orang pertama.

Anak itu menahannya untuk pergi. Tidak, dia yang tertahan. Di suatu sore yang mendung dan semakin gelap, ketika dia meneguhkan hati untuk menemui yang dikasihinya di tempat lain, dia memilih untuk menemani anak kecil itu. Barang sebentar saja.

Anak kecil yang dengan paras ayu di depannya itu menatapnya dalam linangan air mata yang tertahan. Senyumnya dan gelak tawa dirasanya mampu menyembunyikan kepiluan yang dirasakan. Pilu. Kata yang tidak wajar dikenal oleh anak seusianya. Bahkan dia pun, kurasa belum pernah paham arti kepiluan. Mungkin karena itu juga, karena rasa ingin tahu yang tinggi dan juga kepolosan di usianya yang kepala dua, ia merelakan waktunya untuk anak itu.

Hari ini tanggal delapan. Setiap bulannya tanggal delapan, anak itu berdiam diri. Dan setiap tahunnya di tanggal delapan bulan itu, anak itu terisak di balik bantalnya. Hari ini, tepatnya, tanggal delapan bulan itu. Ada sebuah peristiwa yang kemudian dikenal dengan istilah kejadian yang memilukan, perginya seorang sahabat. Perempuan itu tidak pernah tahu bagaimana rasanya ditinggal seorang sahabat. Ya, selama ini dia punya beberapa sahabat, yang belum pernah harus pergi darinya. Maka sepanjang umurnya memasuki kepala dua, persahabatan adalah satu kata yang membahagiakan. Namun tidak dengan anak itu. Tepatnya dua tahun ia ditinggal. Dua tahun merasakan berjuta rasa, ada kehilangan,. Dua tahun juga berjalan dengan pengobatan yang belum berujung pada sembuh dan penguatan yang melemahkan. Sungguh dua tahun yang memilukan.

Yang selama ini dialami oleh anak itu sungguh tidak pernah ada di dalam benak perempuan itu. Memori lucu dan momen gila-gilaan yang dijalani bersama yang beberapa sempat tersimpan di dalam pas foto dari photobox dan ada juga beberapa di facebook, kini tidak lagi menjadi lucu. Senyum cerianya menggetirkan hati. Gigi putihnya mengelabukan jiwa. Mata bulatnya membutakan asa. Tidak ada lagi sosok R, anak laki-laki. tidak ada lagi. Kecelakaan itu merenggutnya. Merenggut juga hati orang tuanya, dan sahabat-sahabatnya, salah satunya anak itu. Kalau boleh mempersalahkan waktu, mungkin iya, itu adalah salahnya, tidak ada waktu. Kalau boleh mempersalahkan kebijakan alam raya, mungkin iya, itu adalah salanya, tidak ada kesempatan. Kalau boleh mempersalahkan dirinya, mungkin iya, itu adalah salahnya, kurang hati-hati dalam berkendara. Perempuan itu tidak pernah tahu yang namanya firasat, tidak seperti ibu laki-laki itu. Persis setelahnya melarang anak satu-satunya keluar rumah, anak itu meninggal di tempat setelah diserempet oleh truk di pinggir jalan.

Setelahnya, bayang-bayang akan masa lalu mengelilingi anak perempuan itu. Terlalu sakit. Mulai dari foto bersama anak laki-laki itu sampai dengan jaket kesayangannya ada di tangan anak perempuan itu. Mengingatnya membuat sakit, tidak mengingatnya pun menyakitkan. Ah, apakah sebenarnya perasaan itu? Apakah sebenarnya hati itu? Mengapa bisa sedemikian dahsyatnya kekuatan hati? Dan sedahsyat itu pula kah kelemahan hati, jika terluka dan tersakiti? Tidak ada yang bisa mengobati hati selain regenerasi dari hati itu sendiri. Dan mengumpulkan bayang tentang masa lalu mungkin bisa jadi obat, tapi bisa juga menjadi racun yang mematikan. Entahlah, lagi-lagi bukan kewenangan perempuan itu untuk mengadili. Ia juga belum pernah tahu rasanya pedih.

Sudah cukup tentang masa lalunya. Toh membahas yang sekarang pun tidak akan luput dari masa lalu. Jadi biar kulanjutkan cerita tentang tanggal delapan bulan itu.

Dengan tertahan, di balik bantal, ia menceritakan kembali kisah memilukan itu pada sosok perempuan yang ia temui di sampingnya. Kadang menangis, kadang tertawa, kadang jujur, kadang pula menyembunyikan. Perempuan itu membiarkannya mengalir, baik kata-kata dan juga air mata, sambil sesekali memegang erat tangan anak itu. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari mulut kecil itu, apakah untuk bertanya atau memang mempertanyakan, perempuan itu tidak berani menebak, juga tidak berani menjawab. Hanya diam. Diam yang dibenci oleh anak perempuan itu karena sudah terlalu lama ia bersembunyi dalam diam. Ia tidak ingin lagi berkawan dengan diam. Namun siapalah anak perempuan itu dibandingkan dengan kesunyian yang lebih mengetahui kepedihan yang dirasa? Maka seperti persahabatnnya dengan sosok laki-laki yang disayanginya, pertemanan dengan diam juga tak dapat dielakkan. Dan ia semakin menangis. Juga perempuan itu.

Menunggu redanya air mata si anak perempuan berarti menunggu datangnya hujan yang sepertinya akan sangat lebat. Sedan anak itu mulai melambat sementara angin di luar mulai bergemuruh. Dan dua kejadian paralel itu membuat perempuan polos itu bertanya-tanya, mana badai yang lebih mengerikan, di dalam atau di luar?

Setelah hampir benar-benar berhenti, anak perempuan itu mengatakan pada perempuan yang lebih tua darinya bahwa yang lebih menyakitkan ternyata bukan saat kehilangannya, melainkan saat kita tidak diberi kesempatan untuk menikmati kehilangan itu. Apa rupanya dasar anak itu mengatakannya? Selidik punya selidik setelah si perempuan menanyakannya, adalah karena anak itu tidak diberi kesempatan untuk menyembuhkan hatinya. Setiap kali ingin menangis, ada saja yang menentangnya dengan keras. Setiap kali ingin berduka, ada saja yang mengomentari dengan sinis. Selama ini, baik menangis dan berduka ia lakukan dalam diam. Ini rupanya yang membuatnya benci akan diam. Teman setianya.

Dan untuk beberapa lamanya ke depan, perempuan polos itu menggerakkan tangan yang tergerakkan oleh hatinya untuk merengkuh anak itu ke dalam dekapannya. Syahdu sekali pemandangan itu. Saking khidmatnya terasa sampai di bumi bahwa penjaga-penjaga langit berhenti melakukan aktivitasnya demi untuk menonton peristiwa itu. Tidak ada angin yang berhembus semilir kecuali nafas memburu dari perempuan yang terlalu terguncang dengan kisah anak itu. Tidak ada bau-bauan lain selain dari bau dari rambut anak perempuan yang tersibak. Tidak ada suara bahkan sedenting jarum yang jatuh kecuali suara bisik aku ada di sini untukmu dari perempuan kepada anak perempuan itu. Peristiwa menyatunya dua hati. Hati. Hati… untuk pertama kalinya perempuan itu paham apa itu hati. Penerang.

Dan pertama kali juga untuk anak itu terobati hatinya. Ada sosok teman baru dalam persahabatan dengan diamnya. Teman baru yang mempersilakannya untuk berteriak dan meraung, untuk merasa kehilangan dan duka, untuk melepaskan segala isak, untuk mengamukkan badai di dalamnya keluar, untuk merobek sekalian lubang-lubang kecil di hatinya, untuk sengaja benar meneteskan air garam di atas lukanya. Seiring dengan amukan yang keluar dari mulut kecil seorang anak berhati seluas samudera, tetesan di luar jatuh. rupanya penjaga langit mulai tersadar harus melakukan tugasnya. toh manusianya sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. maka mereka membawa pergi serpihan-serpihan luka hati yang berhasil dikorek, jauh, sejauh mungkin. 

*

hari dan tokoh berikutnya bersambung :)